Saturday, February 9, 2013

Good Bye My Pal . . .



Tidak banyak yang bisa aku tulis di sini, atau memang terlalu banyak hal yang harus ditulis di sini, sampai tidak semuanya bisa aku tulis. Semoga sebagian cerita ini bisa memberikan apa yang kalian harapkan.
Sekitar 3 tahun lalu, tepatnya semester 2, ketika aku mengikuti mata kuliah psikologi sosial, aku mendapatkan tugas untuk melakukan observasi atau meneliti tentang fenomena sosial. Pada saat itulah aku mulai mengenal organisasi Sosial Kemanusiaan (SosKem). Seorang sahabatku yang berjasa mengenalkan aku pada Soskem. Aku sendiri pada awalnya sempat bertanya-tanya, apa itu SosKem. Sahabatku yang tahu pertama kali SosKem menjelaskan dengan semangat. Yang aku tahu waktu itu, kegiatan di soskem adalah mengajar adik-adik jalanan. Aku yang pernah meneliti tentang anak jalanan pada waktu SMA jadi sedikit tertarik. Ya, pada akhirnya memang aku masuk di Soskem dengan 1 alasan,
“Mengerjakan tugasku di mata kuliah psikologi sosial”.
Satu bulan berjalan, Alhamdulillah segalanya berjalan lancar, aku mendapatkan data-data yang aku butuhkan. Namun ada hal lain yang menyentak kalbuku. Tawa ceria adik-adik yang jadi sasaran kegiatan di SosKem, kondisi tempat tinggal mereka, serta kondisi lingkungan dan keluarganya, semuanya menimbulkan protes dari dalam diriku. Begitu pun dengan sahabatku yang mengenalkan aku pada SosKem, kami memang sama-sama tidak pernah tahu benar apa itu SosKem, karena kami memang sama-sama maba alias mahasiswa baru.
Satu semester berjalan, kami pun mulai menemukan sense di SosKem. Tugas mata kuliah yang aku kerjakan dan menjadi motivasi utama aku masuk SosKem sudah selesai, dan Alhamdulillah mendapat nilai yang memuaskan. Kami mulai menyadari bahwa sudah menjadi tekad dan tugas bagi kami untuk mengangkat kehidupan adik-adik dan masyarakat di daerah tersebut. Kalau aku menyebut, mereka bukanlah anak jalanan, tapi mereka adalah anak-anak dari masyarakat yang terpinggirkan. Mereka adalah kaum urban yang sedang mencari nafkah di kota ini. Mereka tidak mendapatkan tempat tinggal dan lingkungan yang layak. Air kotor, rumah hanya berukuran 2,5 x 1 meter, serta lingkungan yang keras menjadi santapan sehari-hari mereka. Fenomena berganti-ganti pasangan pun menjadi hal yang lumrah.  Bisa dibayangkan bagaimana jadinya seorang anak yang hidup dan dibesarkan di lingkungan seperti itu.
Berbagai hal coba kami, aku dan sahabatku, lakukan. Tujuan utama kami adalah adik-adik yang ada di sana. Kami melakukan pembinaan rutin, memberi beasiswa, memberikan gizi tambahan kepada mereka, mengajak mereka bermain untuk sekedar menambah senyum keceriaan kepada mereka. Entah mengapa aku dan sahabatku mulai menikmati semua ini, sedikit demi sedikit tim kami mulai berkurang dari jumlah awal. Kalau senior bilang ada seleksi alam, karena memang tidak semua orang tahan dengan kegiatan seperti ini. Ya, memang benar kata beliau, berhadapan dengan lingkungan kotor, bau tidak enak, najis dimana-mana, belum lagi pembinaan setiap hari Minggu yang mungkin bagi mahasiswa baru yang masih homesick akan terasa sangat berat. Keistiqomahan, kreativitas, keuletan dan kesabaran, semuanya mutlak diperlukan dalam hal ini. Aku dan sahabatku pun saling memotivasi, saling membantu untuk bisa istiqomah, sabar, serta menjalankan apa yang sudah menjadi tekad kami secara optimal. Kami rela meninggalkan aktivitas liqo’ atau kajian-kajian yang diadakan oleh lembaga dakwah kampus demi untuk pembinaan kepada adik-adik yang ada di SosKem. Rasa lelah, bosan, jenuh dan berbagai rasa muak yang lain sering kali menyerang. Namun kami bahu-membahu mampu melawan itu semua.
Setahun berlalu, aku mulai mengenali struktur organisasi di SosKem, ternyata SosKem adalah bagian dari Pelayanan Sosial UKMKI (lembaga dakwah kampus di universitasku). Selain SosKem, ada organisasi serupa yang bernama SanSa (Sayang Anak Bangsa) yang hanya beda target sasaran saja. Kalau Sansa itu target sasarannya adalah adik-adik sekolah dasar di sekitar universitas yang kurang mampu. Kegiatannya hampir sama, yakni pemberian beasiswa dan pembinaan rutin tiap minggunya. Kurang lebih itulah yang aku kenal dari SanSa. Namun kami tidak begitu peduli dengan struktur ataupun SanSa. Yang kami tahu hanyalah bagaimana usaha di pembinaan adik-adik di SosKem.
Di akhir tahun, pada rapat komisi pelayanan sosial di muktamar UKMKI, diputuskan bahwa SanSa dan SosKem akan digabung dalam satu organisasi yang bernama YanSos (Pelayanan Sosial). Manajemennya akan jadi satu. Kebetulan aku mencoba ikut dalam diskusi pembentukan manajemen yang baru. Pada saat itu, ternyata ada satu agenda bersama yang belum dilaksanakan, yakni vacation atau rekreasi. Pada saat itu juga secara sepihak aku ditunjuk menjadi ketua panitia acara tersebut. Aku pun menyanggupi amanah tersebut. Sahabatku pun juga mendukung penuh dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Pada acara itulah aku secara mendadak diminta juga menjadi kadiv (kepala divisi) pembinaan.
Baiklah, aku jelaskan tentang organisasi ini. YanSos atau pelayanan sosial, adalah organisasi yang bergerak di bidang sosial, dengan kegiatan utama memberi beasiswa kepada adik-adik yang kurang mampu, kemudian memberikan pembinaan rutin kepada adik-adik dan orang tua, serta kemudian mengadakan kegiatan atau acara-acara dengan tema tertentu. Adapun struktur organisasinya juga sederhana dan ramping. Dipimpin oleh ketua kemudian dibawahnya langsung divisi-divisi. Divisi-divisi itu terdiri dari divisi pembinaan, marketing, administrasi, keuangan, serta kaderisasi. Untuk tugas sekretaris dan pembagian beasiswa dipegang oleh divisi administrasi. Tugas  bendahara dan penarikan dana dari donatur dipegang oleh divisi keuangan. Untuk kegiatan utama dipegang oleh divisi pembinaan, meliputi kegiatan pembinaan rutin serta acara dengan tema tertentu. Kemudian ada divisi marketing yang bertugas untuk mempromosikan YanSos keluar sehingga bisa menarik donatur serta pihak terkait untuk bekerjasama dengan YanSos. Kelima divisi dipimpin oleh seorang kepala divisi atau kadiv. Dan langsung bertanggung jawab kepada ketua umum.
YanSos ini bersifat BSO atau bidang semi otonom di bawah UKMKI. Karena bersifat BSO maka YanSos mempunyai AD ART serta GBHO sendiri, perekrutan anggota sendiri, punya pelatihan sendiri,  dan mempunyai kewajiban atau hak khusus sendiri lainnya. Keputusan tertinggi berada pada Musyawarah Besar yang diadakan setiap awal kepengurusan. Ya, itulah sekilas tentang organisasi YanSos.
Kami (aku dan sahabatku) berjuang bersama di YanSos. Pada tahun pertama kami berjuang di divisi pembinaan. Kami mencoba memperbaiki sistem pembinaan. Kami perjuangkan hak adik-adik baik di SosKem maupun SanSa untuk bisa mendapatkan pengetahuan. Kami berjuang melawan gerakan kristenisasi yang ada di daerah tempat adik-adik Soskem berada. Kami berjuang juga melawan kejenuhan serta rasa penat dari dalam diri kami.
Pada tahun kedua, ketika pergantian pengurus, aku dan sahabatku bertekad untuk membuat YanSos lebih baik. Ya, kami memang menemui sedikit kekecewaan pada salah satu divisi di YanSos dan itu cukup membuat divisi lainnya terganggu. Aku yang satu-satunya kadiv dengan angkatan paling muda waktu itu diangkat menjadi ketua, dan aku mengajak sahabatku itu untuk menjadi kadiv di divisi yang kami kecewa itu. Aku juga menemukan sahabat baru di divisi yang lainnya. Ya, kami berjuang bersama demi kehidupan adik-adik yang tidak berdosa itu.
Keceriaan, semangat, kekeluargaan, saling berbagi dan memotivasi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi aku dan kelima kadivku. Kondisi yang mungkin tidak bisa ditemui di tempat lain. Secara tidak sengaja pula, sahabatku berhasil menghubungkan YanSos dengan sekelompok mahasiswa dari universitas tetangga. Wah senang rasanya bisa menambah keluarga sesama pejuang kemanusiaan. Memperjuangkan hak untuk anak negeri. Ya, kami berjuang untuk anak negeri demi tegaknya Kalimat Allah dan generasi bangsa yang lebih baik.
Sampai pada akhirnya, datanglah hari itu, dimana keceriaan berubah menjadi tangis kesedihan, semangat menjadi rasa iba, rasa kekeluargaan menjadi semakin kuat. Sahabatku jatuh sakit, sampai tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Sampai pada tanggal 19 November 2012, seminggu setelah sahabatku masuk rumah sakit, Allah memanggil sahabatku. Hafizuddin Ahmad, itulah nama sahabatku. Tiada lagi kata yang bisa menggambarkan perasaanku waktu itu. Perasaan sedih, sesal, haru, bahagia serta rasa bangga bercampur menjadi satu. Dalam waktuku aku berbicara sendiri kepada sahabatku, “Hafiz, engkaulah sahabat terbaikku, terima kasih sudah menemaniku berjuang selama ini, terima kasih sudah menjadi bagian dari semangat hidupku, terima kasih atas semua yang telah kau berikan, maafkan aku yang banyak salah kepadamu, maafkan aku yang masih banyak menunggak janji dengan mu, Ya Allah, ampunilah segala dosa Hafiz, ampunilah segala dosa kami, ampunilah kami yang berjuang di YanSos, kami hanya ingin tegaknya agamamu di bumi ini, berilah kekuatan dan ketabahan kepada keluarga Hafiz, tempatkanlah dia di tempat yang mulia Ya Allah, ridhoilah Hafiz ya Allah, segala perjuangannya adalah karena menaati perintah-Mu ya Allah”. Tetes air mata tak kuasa kutahan lagi. Selamat tinggal sahabatku, sudah saatnya engkau beristirahat, semangatmu akan selalu kujaga dalam hidupku, akan aku teruskan perjuangan kita yang belum tuntas ini.
Pada akhirnya memang aku bisa memenuhi janji kami, dulu aku pernah janji ke dia main ke rumahnya di Depok dan makan tik-tog (itik mentog blasteran), dan kemarin aku akhirnya main ke Depok, untuk mengunjungi rumah terakhirnya. Kemudian makan tik-tog yang pernah dengan bangga dia ceritakan kepadaku. Aku juga bisa berkenalan dengan keluarganya dan paman-pamannya. Senang bisa menambah silaturahim dengan keluarga sahabatku.
Itulah sepenggal kisah yang bisa aku ceritakan. Perjuangan dan komitmen kami pada dakwah sosial di YanSos. Rasa cintaku di YanSos yang mungkin di luar logika, karena memang cinta ini tanpa logika. Rasa cintaku kepada adik-adik SosKem, rasa cintaku kepada adik-adik SanSa. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa aku ungkapkan. Terima kasih kepada semua yang telah membantu dan mendukung, terima kasih semuanya. Semoga Allah membalas.


Surabaya, 10 Muharram 1434 H

1 comment:

  1. Subhanallah..semoga segala amal perbuatan mas-mas ini brarti ibadah di sisi Allah.. Amiin :)

    ReplyDelete