Tuesday, February 19, 2013

Pengertian dan syarat Identifikasi dan menangkap problem pada anak



Latar Belakang
Diawali dengan pendapat Sigmund Freud bahwa suatu pendekatan pendidikan dan bermain merupakan teknik-teknik penyembuhan dengan cara bermain dan dapat dilihat melalui analisa kejiwaan. Caplan pada tahun 1974 berpendapat bahwa terapi permainan bisa dilakukan dengan cara menggunakan alat yang tidak berbahaya, misal : Buku cerita yang dapat digunakan untuk menumbuhkan pola komunikasi antara siswa dengan gurunya.
Bermain merupakan hal yang penting bagi anak-anak. Jika diibaratkan bermain adalah bahasa dari anak-anak, maka mainan-mainannya adalah kata-katanya. Melalui kegiatan bermain anak dapat bereksplorasi, mengekspresikan kehendaknya, mengungkapkan batin mereka serta menguji berbagai situasi dan perilaku dalam sebuah lingkungan yang mendukung. Penerimaan yang positif serta tidak bersyarat mendorong anak agar merasa cukup aman untuk dapat bereksplorasi sesuai kehendaknya tanpa hambatan. Dalam kondisi bermain anak akan mencoba peran yang berbeda, belajar melalui konflik yang terjadi, antara pikiran dan emosinya, selalu ingin tahu dan mencoba mencari tahu seperti apa dunia ini. Anak juga dapat membentuk relasi dengan orang lain dan melalui relasi ini anak akan belajar mengembangkan kepercayaan, harga diri serta self-efficacy.
Dalam pada itu, maka terapi bermain akan menjadi sarana yang tepat untuk digunakan dalam memahami permasalahan yang sedang dihadapi oleh si anak. Karena mereka dapat mengungkapkan segala uneg-unegnya tanpa ada rasa takut atau merasa ada tekanan dari luar yang menyebabkan mereka menyembunyikan lagi uneg-unegnya itu. Anak-anak sering kali merasa tidak bisa mengontrol atas situasi
yang ada dalam hidup mereka. Dalam terapi bermain anak-anak dapat beraktivitas melalui pengalaman-pengalaman yang mampu mereka kontrol. Perasaan kontrol ini sangat penting untuk perkembangan emosional mereka serta kesehatan mental positif.

Konsep
Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai pola atau aturan yang tidak mengikat. (Sukinah, 2007)

Definisi
Terapi bermain dapat didefinisikan sebagai sarana untuk menciptakan pengalaman hubungan intens antara terapis dan anak-anak atau anak muda, yang media utama komunikasinya adalah bermain (Wilson 2000). Sedangkan APT (Association for Play Therapy) mendefinisikan terapi bermain sebagai "penggunaan yang sistematis dari model teoritis untuk mendirikan sebuah proses interpersonal dimana terapis bermain terlatih menggunakan kekuasaan terapi bermain untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai tumbuh kembang optimal.". Terapi Bermain adalah bentuk konseling atau psikoterapi yang menggunakan bermain untuk berkomunikasi dengan dan membantu orang, terutama anak-anak, untuk mencegah atau mengatasi tantangan psikososial. Hal ini diduga untuk membantu mereka ke arah yang lebih baik pertumbuhan sosial, integrasi dan pembangunan (Wikipedia). Sukinah berpendapat bahwa terapi bermain adalah teknik penyembuhan terhadap anak berkebutuhan khusus, dengan menggunakan media berbagai macam bentuk permainan, baik tanpa maupun memakai alat yang tidak membahayakan dirinya, dan dapat dilaksanakan di alam terbuka sepanjang membantu program pembelajaran.
Dari berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terapi bermain adalah sebuah bentuk terapi yang membantu anak-anak atau orang yang masih muda untuk mengatasi permasalahan dalam hidupnya dengan menggunakan media bermain.
Sukinah berpendapat bahwa definisi dari Terapi Bermain adalah sebagai berikut :
  1. Teknik penyembuhan terhadap anak berkebutuhan khusus, dengan menggunakan media berbagai macam bentuk permainan, baik tanpa maupun memakai alat yang tidak membahayakan dirinya, dan dapat dilaksanakan di alam terbuka sepanjang membantu program pembelajaran.
  2. Semula terapi bermain diterapkan berdasarkan ajaran dan pola kerja dari sigmund freud dengan titik tolaknya pada analisa kejiwaan sebagai alat untuk kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan : berbicara, rasa interest, kebenaran mengungkapkan “perasaan diri”.
  3. Terapi bermain berkembang menjadi suatu terapi yang menitik beratkan pada gerak seseorang (psychomotor performance) dengan alatnya berbagai bentuk permainan. Bentuk permainan ini pun diharapkan dapat memacu anak yang bersangkutan dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Misalnya : kegiatan toilet training.

Tujuan Terapi Bermain
Adapun tujuan terapi bermain adalah untuk menunjang beberapa aspek dibawah ini :
1.      Keterampilan mengurus diri sendiri (Self help skills)
2.      Kemampuan untuk melakukan kegiatan tertentu, kemampuan sensorik motorik kasar dan halus.(psycho-motor performance)
3.      Penyesuaian diri terhadap lingkungannya (social adaptation)
4.      Keterampilan diri bagi kesiapan kerja di masyarakat (prevocational skills)
5.      Meningkatkan kemampuan berpikir.
6.      Meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
7.      Meningkatkan kemampuan sosial-emosional.
8.      Meningkatkan dan mengembangkan percaya diri.
9.      Meningkatkan dan mengembangkan kemandirian.
10.  Meningkatkan dan mengembangkan perasaan seni.
11.  Memperbaiki penyimpangan perilaku.
12.  Meningkatkan dan mengembangkan pengindraan.
Manfaat terapi bermain bagi anak-anak
            Manfaat terapi bermain bagi anak-anak antara lain, yaitu :
  1. Pertama, anak-anak ‘terjaga’ ketika berhadapan dengan prospek ‘bermain’. Mereka langsung terlibat dalam situasi sosial yang mengajarkan keterampilan saat mereka sedang bersenang-senang. Mereka yang akrab dengan unsur-unsur bermain seperti turn-taking, aturan menjaga, menang, kalah dan ko’operasi.
  2. Kedua, sementara anak-anak secara aktif terlibat dengan proses bermain game, tantangan sosial dan emosional muncul saat mendidik ‘atau krisis terjadi, sehingga memberikan pengalaman belajar bermakna dengan segera.
  3. Ketiga, terapi bermain anak-anak dengan menyediakan lingkungan yang aman untuk mempraktekkan keterampilan baru. Anak-anak merasa santai dan arus diskusi mudah dalam pengaturan ini.
  4. Keempat, pengamatan klinis dapat dilakukan dan ditarik kesimpulan tentang anak-anak yang tidak meningkatkan penggunaan keterampilan prososial setelah pembelajaran ekstra dan pemanduan praktek. Adanya sindrom organik, masalah kesehatan mental atau masalah perlindungan anak perlu diselidiki.
Sasaran Terapi Bermain (Sukinah, 2007) :
  1. Anak gangguan mental dengan penyerta gangguan psikis, sosial emosi dan komunikasi, sasaran pada mental, psikologi, sosial emosional dan komunikasinya.
  2. Anak berkesulitan belajar dengan gangguan penyerta psikologis, sosial emosional, gerak kurang koordinasi, tremor, kelayuhan atau kaku.
  3. Anak gangguan perilaku atau emosi
  4. Anak gangguan bahasa penyertanya psikis, sosial emosional dan ada kalanya terbelakang mental.
  5. Anak gangguan pendengaran penyertanya berbahasa atau bicara, psikis, sosial emosional, dan terkadang mental.
  6. Anak gangguan penglihatan penyerta psikis dan sosial emosional.
  7. Anak gangguan fisik dan kesehatan penyertanya psikis, sosial emosional.
  8. Anak cacat ganda penyerta majemuk seperti sensorik, psikis, sosial emosional, komunikasi dan kadang penyimpangan perilaku.
  9. Anak dengan kecerdasan luar biasa atau berbakat, efeknya psikologis dan sosial emosional.
Syarat Pelaksanaan Terapi Bermain
Syarat dan prinsip pokok saat pelaksanaan terapi bermain, yaitu :
  1. Prinsip Kegunaan :
a.       Prinsip pengembangan :
-          Fungsi fisik (melancarkan peredaran darah, dan bagian tubuh lainnya)
-          Fungsi intelektual (pengembangan daya fikir atau nalarnya, daya kreasi serta ekspresi dirinya)
-          Fungsi emosi (melatih menahan diri, mampu menyatakan perasaan dirinya)
-          Fungsi sosialisasi (mengenal orang lain atau lingkungannya, dapat bekerja sama dengan orang lain)
b.      Prinsip rekreatif : perolehan kesenangan dan kegembiraan
c.       Prinsip aktifitas : munculnya self activity sesuai dengan keinginan dan kesenangannya.
d.      Prinsip penyembuhan :dapat memperbaiki kelainan atau kekurangan yang dialami oleh anak.
2. Prinsip yang berkaitan dengan pelaksanaannya:
  1. Prinsip Korelasi dianjurkan bahan bagi terapi bermain tidak hanya dipergunakan bagi latihan tertentu saja melainkan berhubungan dengan peningkatan fungsi gerak lainnya. Misal media tanah liat bisa digunakan pengembangan latihan motorik maupun peningkatan kreatifitas anak.
  2. Prinsip skala perkembangan mental, bahan atau materi hendaknya disesuaikan dengan kemampuannya sesuai dengan keberadaannya serta sesuai dengan kebutuhan dari anak (individual needs)
  3. Prinsip pengulangan, hendaknya dilakukan secara berulangulang. Karena anak-anak berkebutuhan khusus terutama anak tunagrahita berkesulitan berkonsentrasi pada satu tujuan serta mudah lupa.

Syarat Karakteristik Kepribadian Terapis Bermain yang Efektif
  1. Secara tulus tertarik pada dunia anak dan mampu mengembangkan hubungan yang hangat dan menyenangkan
  2. Penerimaan tanpa syarat terapis terhadap anak dan tidak mengharapkan adanya hal yang lain pada anak
  3. Terapis menciptakan rasa aman dan kebebasan dalam hubungan dengan anak sehingga anak merasa bebas bereksplorasi dan mengekspresikan diri sepenuhnya.
  4. Terapis selalu sensitif terhadap perasaan anak dan dengan hati-hati merefleksikan perasaan tersebut sehingga anak mengembangkan pengertian diri
  5. Terapis percaya bahwa anak dapat bertanggung jawab dalam bertindak, menghargai, dan membiarkan anak menunjukkan kemampuannya menyelesaikan masalah pribadi.
  6. Terapis percaya pengarahan diri anak, membiarkan anak memimpin di segala area hubungan dan tidak mengarahkan anak dalam bermain atau berbicara.
  7. Terapis menghargai peningkatan proses terapiutik yang alami dan tidak terburu-buru.
  8. Terapis membangun batasan terapiutik yang membantu anak menerima tanggung jawab dari hubungan personal yang tepat.

Syarat lingkungan terapi bermain :
  1. Merupakan lingkungan yang kondusif dan cukup memadai untuk bermain
  2. Tidak selalu harus sepi, sesuaikan dengan terapi yang ingin kita lakukan
  3. Setting lingkungan harus dipersiapkan secara matang agar tidak banyak distraktor yang mengganggu jalannya setting therapy

Syarat alat dan tata cara permainan :
  1. Menyediakan peralatan bermain yang dibutuhkan
  2. Disesuaikan dengan therapy yang ingin dilakukan
  3. Menyusun tata cara permainan secara terperinci dan mudah disampaikan
  4. Menyusun tata cara permainan sesuai dengan prinsip dan tujuan yang ingin dicapai dari play therapy, misal
a.       Permainan yang berkaitan dengan sensomotoris : membedakan halus – kasar, menyusun bentuk.
b.      Permainan yang berguna bagi pengembangan kekuatan : mengangkat dan menaruh benda, bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya dengan tempo tertentu.
c.       Permainan yang bersifat simbolis : role play dokter-dokteran, mencangkul di sawah dsbnya.
d.      Permainan yang berhubungan dengan kegiatan lomba : gobag dosor, sunda manda dsbnya.  Baik permainan tradisional maupun yang sudah dimodifikasi bentuk pertandingan.

No comments:

Post a Comment