Tidak banyak yang bisa
aku tulis di sini, atau memang terlalu banyak hal yang harus ditulis di sini,
sampai tidak semuanya bisa aku tulis. Semoga sebagian cerita ini bisa
memberikan apa yang kalian harapkan.
Sekitar 3 tahun lalu,
tepatnya semester 2, ketika aku mengikuti mata kuliah psikologi sosial, aku
mendapatkan tugas untuk melakukan observasi atau meneliti tentang fenomena
sosial. Pada saat itulah aku mulai mengenal organisasi Sosial Kemanusiaan (SosKem).
Seorang sahabatku yang berjasa mengenalkan aku pada Soskem. Aku sendiri pada
awalnya sempat bertanya-tanya, apa itu SosKem. Sahabatku yang tahu pertama kali
SosKem menjelaskan dengan semangat. Yang aku tahu waktu itu, kegiatan di soskem
adalah mengajar adik-adik jalanan. Aku yang pernah meneliti tentang anak
jalanan pada waktu SMA jadi sedikit tertarik. Ya, pada akhirnya memang aku
masuk di Soskem dengan 1 alasan,
“Mengerjakan tugasku di mata kuliah psikologi sosial”.
“Mengerjakan tugasku di mata kuliah psikologi sosial”.
Satu bulan berjalan,
Alhamdulillah segalanya berjalan lancar, aku mendapatkan data-data yang aku
butuhkan. Namun ada hal lain yang menyentak kalbuku. Tawa ceria adik-adik yang
jadi sasaran kegiatan di SosKem, kondisi tempat tinggal mereka, serta kondisi
lingkungan dan keluarganya, semuanya menimbulkan protes dari dalam diriku. Begitu
pun dengan sahabatku yang mengenalkan aku pada SosKem, kami memang sama-sama
tidak pernah tahu benar apa itu SosKem, karena kami memang sama-sama maba alias
mahasiswa baru.
Satu semester berjalan,
kami pun mulai menemukan sense di SosKem. Tugas mata kuliah yang
aku kerjakan dan menjadi motivasi utama aku masuk SosKem sudah selesai, dan
Alhamdulillah mendapat nilai yang memuaskan. Kami mulai menyadari bahwa sudah
menjadi tekad dan tugas bagi kami untuk mengangkat kehidupan adik-adik dan
masyarakat di daerah tersebut. Kalau aku menyebut, mereka bukanlah anak
jalanan, tapi mereka adalah anak-anak dari masyarakat yang terpinggirkan.
Mereka adalah kaum urban yang sedang mencari nafkah di kota ini. Mereka tidak
mendapatkan tempat tinggal dan lingkungan yang layak. Air kotor, rumah hanya
berukuran 2,5 x 1 meter, serta lingkungan yang keras menjadi santapan
sehari-hari mereka. Fenomena berganti-ganti pasangan pun menjadi hal yang
lumrah. Bisa dibayangkan bagaimana
jadinya seorang anak yang hidup dan dibesarkan di lingkungan seperti itu.
Berbagai hal coba kami,
aku dan sahabatku, lakukan. Tujuan utama kami adalah adik-adik yang ada di
sana. Kami melakukan pembinaan rutin, memberi beasiswa, memberikan gizi
tambahan kepada mereka, mengajak mereka bermain untuk sekedar menambah senyum
keceriaan kepada mereka. Entah mengapa aku dan sahabatku mulai menikmati semua
ini, sedikit demi sedikit tim kami mulai berkurang dari jumlah awal. Kalau
senior bilang ada seleksi alam, karena memang tidak semua orang tahan dengan
kegiatan seperti ini. Ya, memang benar kata beliau, berhadapan dengan
lingkungan kotor, bau tidak enak, najis dimana-mana, belum lagi pembinaan
setiap hari Minggu yang mungkin bagi mahasiswa baru yang masih homesick
akan terasa sangat berat. Keistiqomahan, kreativitas, keuletan dan kesabaran,
semuanya mutlak diperlukan dalam hal ini. Aku dan sahabatku pun saling
memotivasi, saling membantu untuk bisa istiqomah, sabar, serta menjalankan apa
yang sudah menjadi tekad kami secara optimal. Kami rela meninggalkan aktivitas
liqo’ atau kajian-kajian yang diadakan oleh lembaga dakwah kampus demi untuk
pembinaan kepada adik-adik yang ada di SosKem. Rasa lelah, bosan, jenuh dan
berbagai rasa muak yang lain sering kali menyerang. Namun kami bahu-membahu
mampu melawan itu semua.
Setahun berlalu, aku
mulai mengenali struktur organisasi di SosKem, ternyata SosKem adalah bagian
dari Pelayanan Sosial UKMKI (lembaga dakwah kampus di universitasku). Selain
SosKem, ada organisasi serupa yang bernama SanSa (Sayang Anak Bangsa) yang
hanya beda target sasaran saja. Kalau Sansa itu target sasarannya adalah
adik-adik sekolah dasar di sekitar universitas yang kurang mampu. Kegiatannya
hampir sama, yakni pemberian beasiswa dan pembinaan rutin tiap minggunya.
Kurang lebih itulah yang aku kenal dari SanSa. Namun kami tidak begitu peduli
dengan struktur ataupun SanSa. Yang kami tahu hanyalah bagaimana usaha di
pembinaan adik-adik di SosKem.
Di akhir tahun, pada
rapat komisi pelayanan sosial di muktamar UKMKI, diputuskan bahwa SanSa dan
SosKem akan digabung dalam satu organisasi yang bernama YanSos (Pelayanan
Sosial). Manajemennya akan jadi satu. Kebetulan aku mencoba ikut dalam diskusi
pembentukan manajemen yang baru. Pada saat itu, ternyata ada satu agenda
bersama yang belum dilaksanakan, yakni vacation atau rekreasi. Pada saat itu
juga secara sepihak aku ditunjuk menjadi ketua panitia acara tersebut. Aku pun
menyanggupi amanah tersebut. Sahabatku pun juga mendukung penuh dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut. Pada acara itulah aku secara mendadak diminta
juga menjadi kadiv (kepala divisi) pembinaan.
Baiklah, aku jelaskan
tentang organisasi ini. YanSos atau pelayanan sosial, adalah organisasi yang
bergerak di bidang sosial, dengan kegiatan utama memberi beasiswa kepada
adik-adik yang kurang mampu, kemudian memberikan pembinaan rutin kepada
adik-adik dan orang tua, serta kemudian mengadakan kegiatan atau acara-acara
dengan tema tertentu. Adapun struktur organisasinya juga sederhana dan ramping.
Dipimpin oleh ketua kemudian dibawahnya langsung divisi-divisi. Divisi-divisi
itu terdiri dari divisi pembinaan, marketing, administrasi, keuangan, serta
kaderisasi. Untuk tugas sekretaris dan pembagian beasiswa dipegang oleh divisi
administrasi. Tugas bendahara dan
penarikan dana dari donatur dipegang oleh divisi keuangan. Untuk kegiatan utama
dipegang oleh divisi pembinaan, meliputi kegiatan pembinaan rutin serta acara
dengan tema tertentu. Kemudian ada divisi marketing yang bertugas untuk
mempromosikan YanSos keluar sehingga bisa menarik donatur serta pihak terkait
untuk bekerjasama dengan YanSos. Kelima divisi dipimpin oleh seorang kepala
divisi atau kadiv. Dan langsung bertanggung jawab kepada ketua umum.
YanSos ini bersifat BSO
atau bidang semi otonom di bawah UKMKI. Karena bersifat BSO maka YanSos
mempunyai AD ART serta GBHO sendiri, perekrutan anggota sendiri, punya
pelatihan sendiri, dan mempunyai
kewajiban atau hak khusus sendiri lainnya. Keputusan tertinggi berada pada
Musyawarah Besar yang diadakan setiap awal kepengurusan. Ya, itulah sekilas
tentang organisasi YanSos.
Kami (aku dan
sahabatku) berjuang bersama di YanSos. Pada tahun pertama kami berjuang di
divisi pembinaan. Kami mencoba memperbaiki sistem pembinaan. Kami perjuangkan
hak adik-adik baik di SosKem maupun SanSa untuk bisa mendapatkan pengetahuan.
Kami berjuang melawan gerakan kristenisasi yang ada di daerah tempat adik-adik
Soskem berada. Kami berjuang juga melawan kejenuhan serta rasa penat dari dalam
diri kami.
Pada tahun kedua,
ketika pergantian pengurus, aku dan sahabatku bertekad untuk membuat YanSos
lebih baik. Ya, kami memang menemui sedikit kekecewaan pada salah satu divisi
di YanSos dan itu cukup membuat divisi lainnya terganggu. Aku yang satu-satunya
kadiv dengan angkatan paling muda waktu itu diangkat menjadi ketua, dan aku
mengajak sahabatku itu untuk menjadi kadiv di divisi yang kami kecewa itu. Aku
juga menemukan sahabat baru di divisi yang lainnya. Ya, kami berjuang bersama
demi kehidupan adik-adik yang tidak berdosa itu.
Keceriaan, semangat,
kekeluargaan, saling berbagi dan memotivasi, itulah kata yang tepat untuk
menggambarkan kondisi aku dan kelima kadivku. Kondisi yang mungkin tidak bisa
ditemui di tempat lain. Secara tidak sengaja pula, sahabatku berhasil
menghubungkan YanSos dengan sekelompok mahasiswa dari universitas tetangga. Wah
senang rasanya bisa menambah keluarga sesama pejuang kemanusiaan.
Memperjuangkan hak untuk anak negeri. Ya, kami berjuang untuk anak negeri demi
tegaknya Kalimat Allah dan generasi bangsa yang lebih baik.
Sampai pada akhirnya,
datanglah hari itu, dimana keceriaan berubah menjadi tangis kesedihan, semangat
menjadi rasa iba, rasa kekeluargaan menjadi semakin kuat. Sahabatku jatuh
sakit, sampai tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Sampai pada tanggal 19
November 2012, seminggu setelah sahabatku masuk rumah sakit, Allah memanggil
sahabatku. Hafizuddin Ahmad, itulah nama sahabatku. Tiada lagi kata yang bisa
menggambarkan perasaanku waktu itu. Perasaan sedih, sesal, haru, bahagia serta
rasa bangga bercampur menjadi satu. Dalam waktuku aku berbicara sendiri kepada
sahabatku, “Hafiz, engkaulah sahabat terbaikku, terima kasih sudah menemaniku
berjuang selama ini, terima kasih sudah menjadi bagian dari semangat hidupku,
terima kasih atas semua yang telah kau berikan, maafkan aku yang banyak salah
kepadamu, maafkan aku yang masih banyak menunggak janji dengan mu, Ya Allah,
ampunilah segala dosa Hafiz, ampunilah segala dosa kami, ampunilah kami yang
berjuang di YanSos, kami hanya ingin tegaknya agamamu di bumi ini, berilah
kekuatan dan ketabahan kepada keluarga Hafiz, tempatkanlah dia di tempat yang
mulia Ya Allah, ridhoilah Hafiz ya Allah, segala perjuangannya adalah karena
menaati perintah-Mu ya Allah”. Tetes air mata tak kuasa kutahan lagi. Selamat
tinggal sahabatku, sudah saatnya engkau beristirahat, semangatmu akan selalu
kujaga dalam hidupku, akan aku teruskan perjuangan kita yang belum tuntas ini.
Pada akhirnya memang
aku bisa memenuhi janji kami, dulu aku pernah janji ke dia main ke rumahnya di
Depok dan makan tik-tog (itik mentog blasteran), dan kemarin aku akhirnya main
ke Depok, untuk mengunjungi rumah terakhirnya. Kemudian makan tik-tog yang
pernah dengan bangga dia ceritakan kepadaku. Aku juga bisa berkenalan dengan
keluarganya dan paman-pamannya. Senang bisa menambah silaturahim dengan
keluarga sahabatku.
Itulah sepenggal kisah
yang bisa aku ceritakan. Perjuangan dan komitmen kami pada dakwah sosial di
YanSos. Rasa cintaku di YanSos yang mungkin di luar logika, karena memang cinta
ini tanpa logika. Rasa cintaku kepada adik-adik SosKem, rasa cintaku kepada
adik-adik SanSa. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa aku ungkapkan. Terima kasih
kepada semua yang telah membantu dan mendukung, terima kasih semuanya. Semoga
Allah membalas.
Surabaya, 10
Muharram 1434 H
Subhanallah..semoga segala amal perbuatan mas-mas ini brarti ibadah di sisi Allah.. Amiin :)
ReplyDelete