Suatu ketika, ada seorang kontraktor akan membangun sebuah rumah kecil. Kemudian kontraktor tersebut menyewa beberapa orang pekerja. Sesuai kebiasaan, ketika bekerja, maka juga harus disediakan makanan untuk para pekerja tersebut. Sang kontraktor pun menjamin segala kebutuhan dan makanan untuk para pekerja tersebut. Para pekerja tersebut mendapatkan makanan 3 kali sehari plus snack dan kopi. Kontraktor mejamin kebutuhan makanan tidak akan sampai kekurangan atau tidak ada. Kontraktor menginginkan agar para pekerja tersebut fokus pada pekerjaan.
Akan tetapi, apakah yang terjadi kemudian? Para pekerja tersebut malah tidak fokus pada pekerjaan. Para pekerja fokus pada bagaimana agar mereka bisa makan hari itu. Parapekerja fokus mencari makanan, menyediakan makanan, mencari snack, kopi dan sebagainya. Padahal hal tersebut sudah dijamin oleh
kontraktor. Akhirnya pekerjaan pun jadi tidak lancar, dan proyek tidak selesai tepat waktu. Menurut para pembaca sekalian, bagaimana pekerja tersebut ? betul atau salahkah ?Akan tetapi, apakah yang terjadi kemudian? Para pekerja tersebut malah tidak fokus pada pekerjaan. Para pekerja fokus pada bagaimana agar mereka bisa makan hari itu. Parapekerja fokus mencari makanan, menyediakan makanan, mencari snack, kopi dan sebagainya. Padahal hal tersebut sudah dijamin oleh
Orang normal pada umumnya, akan menilai bahwa pekerja tersebut salah. Ya benar, lucu sekali ketika malah bingung mencari atau mengusahakan apa yang sudah dijamin, kemudian malah melupakan atau mengabaikan yang seharusnya di”bingung”kan. Kalau dalam kasus di atas, para pekerja tersebut malah meributkan, me”musing”kan, membingungkan apa yang sudah dijamin oleh kontraktor, makanan. Para pekerja tersebut malah melupakan kewajiban sebenarnya, yakni menyelesaikan proyek bangunan tersebut dengan baik dan tepat waktu.
Kasus di atas dapat kita analogikan pada manusia hidup di dunia ini. Allah sudah memberitahu bahwa manusia hidup di dunia ini adalah sebagai khalifah dan hamba Allah (beribadah / mentaati perintah Allah) dan akan menjamin rizki manusia. Manusia tidak akan kehabisan rizkinya kecuali meninggal dunia. Akan tetapi, lihatlah apa yang dilakukan oleh banyak manusia? Banyak manusia yang malah bingung dengan harta, “bingung” mencari apa yang sudah dijamin oleh Allah akan dicukupi. Manusia bingung mencari kekuasaan, bingung mencari popularitas, bingung mencari harta, dan bingung mencari rizki. Ya, lucu sekali rasanya bingung mencari apa yang sudah dijamin akan diberi atau dicukupi. Mungkin itulah salah satu tanda tertutupnya hati seseorang.
Ibarat sebuah gelas yang sejatinya berfungsi sebagai tempat air minum, alat untuk minum, atau tempat air. Kemudian gelas tersebut malah digunakan untuk hal lain semisal untuk memasak air, untuk pijakan kaki, atau untuk alas kompor. Ya, memang bisa, tetapi jelas tidak sesuai peruntukan atau fungsinya dan akan cepat rusak. Begitulah manusia, yang diciptakan untuk menjadi khalifah dan menjadi hamba Allah (beribadah). Ini disebut fitrah, atau bahasa lebih mudahnya fungsi aslinya. Manusia yang diciptakan untuk atau bisa dikatakan berfungsi untuk menjadi khalifah dan hamba Allah, malah menggunakan dirinya untuk sibuk mencari harta, sibuk mencari popularitas, sibuk bermaksiyat kepada Allah, sibuk mencari dan melakukan hal –hal yang tdak berhubungan sama sekali dengan fungsi khalifah dan hamba Allah tersebut. Maka tidak usah kaget ketika manusia dan kehidupannya cepat mengalami kerusakan, baik itu rusak secara fisik, kehidupan, moral, dan sebagainya.
Saya disini bukannya menafikan bekerja, mencari nafkah, atau bersekolah dan lain sebagainya. Bekerja mencari nafkah, sekolah, mencari ilmu, itu semua merupakan perintah Allah yang harus dilaksanakan. Yang ingin ditekankan disini adalah fokus dari manusia hidup di dunia ini. Mengingatkan tugas manusia yang sebenarnya, dan mengajak agar tidak terbelenggu oleh duniawi. Berapa banyakkah dari hidup kitaselama sehari, apakah lebih banyak digunakan untuk urusan duniawi dan lainnya? Atau kah menjalankan fungsi manusia sebagai hamba Allah dan khalifah? Silahkan direnungkan sendiri dan dipikirkan. Berpikir sesaat itu jauh lebih baik daripada melakukan ritual ibadah selama 70 tahun. Wallahu a’lamu . .
No comments:
Post a Comment