Wednesday, December 12, 2012

Stasiun-stasiun Kehidupan Manusia (Catatan Kajian Tafsir Ar Rahman ayat 2)


Kala itu, berita mengenai kedahsyatan Al Quran menggema di Makkah. Kaum Kafir Quraisy pun cemas.  Bahkan orang sekaliber dan sekeras Umar bin Khattab pun luluh dengan Quran, hingga berpaling 180 derajat. Berpaling dari kekafiran menuju ajaran tauhid yg disampaikan Nabi Muhammad saw.
Banyak yang terpukau dengan tutur Al Quran. Banyak yang tergetar hatinya mendengar ayat-ayat suci Ilahi. Yang awalnya menyembah berhala menjadi pejuang agama Allah.
Kaum Kafir Quraisy resah. Kampanye hitam pun menjadi jurus mereka. Kampanye hitam terhadap Al Quran, bahwa Al Quran tak lain adalah perkataan manusia biasa yang diajarkan pada Muhammad (saw). Al Quran hanyalah ucapan-ucapan biasa, tak ada yang istimewa.. Isu itu akhirnya mereka lancarkan ke seluruh penjuru..
.... Kemudian
turunlah ayat dari Allah Ta'ala.....

الرَّحْمَنُ
عَلَّمَ الْقُرْآنَ
خَلَقَ الإنْسَانَ
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara.(Q.S Arrahman 1-3)

Ayat ini menjadi penegas. Bahwa Allah Sang Maha Pemurah-lah yang mengajarkan manusia Al Quran..
Lalu mengapa yang dipilih adalah nama Allah Ar Rahman ?  Karena segala ayat-ayat yg berada dalam surat ini berupa segala kasih-sayang Allah Ta'ala.

Ayat yang kedua Allah sebutkan adalah عَلَّمَ الْقُرْآنَ (Yang telah mengajarkan Al Quran). Ini adalah sebuah gambaran bahwa sebelum nikmat yang lain-lain, kasih sayang terbesar Allah ada pada Al Quran. Allah telah menciptakan Al Quran sebelum yang lain-lain.  Sebelum menciptakan manusia. Al Quran adalah nikmat yang tak ternilai, teragung. . Tanpa Al Quran tak terbayang bagaimana manusia dapat hidup sesuai dengan keinginanNya, di bumi yang diciptakanNya..

Setelah itu adalah خَلَقَ الإنْسَانَ..
Allah menciptakan manusia. Penciptaan manusia adalah bentuk kasih sayang Allah. Jika Al Quran adalah kenikmatan ukhrowi, maka manusia diciptakan dengan kecenderungannya pula pada nikmat duniawi.
Seringkali kita lupa. Meminta pada Allah nikmat dunia, tapi lupa meminta nikmat Al Quran.. Padahal jika saja manusia mensibukkan dirinya dengan AL Quran, maka Allah akan penuhi segala kebutuhan hidupnya..

Allah menciptakan manusia, maka Allah berkuasa pula untuk meniadakannya.
Mari kita telaah ayat ini خَلَقَ الإنْسَانَ
Kata خَلَقَ  bukan semata-mata bermakna "menciptakan", tapi juga bermakna "mengadakan", "memuliakan", dan juga "membebani". Hal ini bermakna bahwa manusia diciptakan, menjadi ada, untuk dimuliakan, dan juga dibebani untuk senantiiasa tunduk dan taat pada Allah Ta'ala.

Selanjutnya kata  الإنْسَانَ yang berarti manusia. Al Insan berasal dari kata (mashdar) "Nasyan" (mohon ralat kalo salah kosakata) yang artinya lupa atau lalai.
Jika diperhatikan kita akan menemukan bahwa Allah menyebut manusia dengan 5 nama di AL Quran. Setiap nama ini menyiratkan karakteristik dari manusia itu sendiri.  Notes ini akan membahas lebih mendalam soal ini, insyaaAllah.

Stasiun-stasiun Kehidupan Manusia
Ada 5 nama manusia dalam Al Quran, dimana penyebutan 5 nama ini  seolah Allah hendak menggambarkan stasiun-stasiun (tahap) perkembangan manusia. Berikut ini 5 nama tersebut:
  1.  بشر (Basyar)
  2. إنسان (Insaan)
  3. إنس (Insun)
  4. عبد ('Abdun)
  5. خالفة (Khalifah)

Jika dibuat timeline hidup, bisa digambarkan seperti ini:


Yang pertama, Basyar...

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلا مَلَكٌ كَرِيمٌ

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka." Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (Q.S Yusuf 31)

Basyar (1-4 tahun), merupakan masa di mana manusia memandang segala sesuatu dari sisi lahiriahnya saja. Hanya dari tampak luarnya saja. Ustadz Syatori AR menyebutkan 8 kriteria Basyar (penjelasan tiap poinnya sangat panjang, smoga suatu saat bisa saya kirimkan link audio ceramah beliau, insyaaAllah):
  • Senang pujian, benci cacian
  • Semangat pada hal-hal duniawi, tapi malas pada hal-hal ukhrowi
  • Enggan berkorban, dan suka berbuat zhalim
  • Bangga dengan penampilan
  • Tidak mempunyai rasa malu
  • Bertikai karena hal-hal sepele
  • Tidak mau tau keadaan (cuek)
  • Suka membuat orang lain bingung..

Tanpa sadar banyak orang yang usia biologisnya sudah 20, 30, atau 60 tahun, tapi masih pada level Basyar.

Yang kedua, Insaan.

إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (Q.S Al 'Ashr 2)

Stasiun kedua ini bernama Insan.. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, insan berarti lalai/lupa.
Stasiun insan dihinggapi saat manusia berusia 7 tahun. Usia 7 tahun, menurut Islam, anak sudah bisa dikondisikan untuk beribadah karena anak sudah mulai mempunyai kesadaran walaupun kesadarannya tersebut seringkali timbul-tenggelam.
Dengan demikian fase insan, adalah ketika manusia butuh untuk dibantu agar kesadaran berimannya lebih banyak "timbul"nya daripada "tenggelam"nya. Ya, karena hidup berarti mengarungi samudra dunia yang di dalamnya banyak palung-palung kelalaian. Jika sudah kadung tenggelam, akan sulit mengangkatnya..

Karakteristik insan dapat kita temui di Al Quran
  • Seorang insan seringkali merasa tidak berdaya menghadapi berbagai rintangan dan godaan yang nyata
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah."
Q.S An Nisa 28
  • Suka membantah petunjuk yang sudah sampai kepadanya
"Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata."
Q.S An Nahl 4
  • Tergesa-gesa dalam mengambil keputusan meski menanggung sesal dan kesal di kemudian hari dan hari kemudian
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab) -Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera."
Q.S Al Anbiya 37
  • Sosok insan punya kecenderungan berbuat zhalim dan mengingkari nikmat Allah. Menganggap segala sesuatu adalah miliknya (padahal sejatinya milik Allah).
"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,"
Q.S Al Alaq 6
  • Senang dengan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri (tidak berorientasi masa depan)
"Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,"
Q.S Al Ashr 2
  • Membiarkan dirinya mengeluh dan tidak membantu, apalagi mendahulukan orang lain, cenderung kikir.
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Q.S Al Ma'aarij 19

Fase insan ini adalah fase kritis. Karena setelah selesai dari stasiun insan, rel kehidupan akan bercabang. Manusia akan dihadapkan pada 2 pilihan jalur. Jalan yang penuh pengabdian padaNya (insun 'abdun) atau sebaliknya menjadi pribadi pembangkang (insun syayathinun).
Masa ini sangat bergantung pada didikan orang tua dalam memberikan prinsip dan nilai-nilai tauhid sebelum anak berusia 7 tahun.

Stasiun ketiga, insun..
Seorang yang berhasil melewati fase insan dengan baik, ia akan berada pada fase insun 'abdun.. Fase seorang hamba ('abdun) yang tidak ada keinginan apapun dalam dirinya kecuali memenuhi keinginan Allah.
Seperti ucapan Ali bin Abi Thalib r.a:
Ya Allah, cukuplah menjadi kebanggaan bagiku, Engkau adalah Rabb-ku
Dan cukuplah menjadi kemuliaan bagiku, aku adalah hamba-Mu..
Ya Allah, Engkau sebagaimana yang aku inginkan,
Maka jadikan aku sebagaimana yang Engkau inginkan

Seorang yang berada dalam fase insun 'abdun, ia menjadi sosok yang tawadhu'..
Seperti yang diungkapkan dalam surat Ar Rahman ayat ke14

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,

Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.. Tanah, sesuatu yang rendah.. Maka pribadi tawadhu' adalah pribadi yang sesuai dengan karakteristik dari mana ia berasal.  Semua manusia memiliki potensi tawadhu', buktinya tidak ada satupun orang yang tidak suka dengan sikap tawadhu'.
Manusia senantiasa diingatkan olehNya untuk merendah.. Yakni dengan bersujud..  Mencium tanah yang biasa diinjaknya.. Jika pun manusia sombong, ia tidaklah menjadi tinggi. Karena pribadi sombong akan direndahkan orang lain..  Sedangkan orang yang tawadhu' derajatnya justru meninggi di mata Allah..

Stasiun yang terakhir, khalifah..
Manusia hanyalah bisa mencapai kepemimpinan ini ketika sudah dalam posisi insun 'abdun..
Dengan kata lain, amanah kekuasaan akan Allah janjikan pada manusia-manusia yang menghamba padaNya dengan segenap ketaatan.. Kekuasaan adalah konsekuensi logis dari kesiapan aqidah dan akhlak manusia....

***
Banyak orang yang usia biologisnya 40 tahun tapi, sebenarnya masih berusia 4 tahun.. Karena kehidupannya masih seputar hawa nafsu belaka...
Dan ada pula pemuda yang usia biologisnya 15 tahun, tapi sebenarnya sudah berusia lebih dari 30 tahun.. Karena ketawadhuannya sebagai hamba..

Wallahu a'lam bish shawab..


Salin ulang catatan kajian tafsir surat Ar Rahman tgl 7-10 Ramadhan 1432 H
Ustadz Syatori AR
Masjid Nurul 'ashri
Deresan, Kampung Quran, Yogyakarta

No comments:

Post a Comment